Usai Melahirkan Alyssa Daguise Terkena Body Shaming, Kita Perlu Tahu Ini Agar Tidak Jadi Pelaku

  • Administrator
  • Selasa, 25 Agustus 2026 14:10
  • Health

 

Tampil cantik berkebaya saat menghadiri peringatan HUT RI ke-81 di Istana Negara beberapa waktu lalu, artis Alyssa Daguise yang baru saja melahirkan putri pertamanya justru terkena body shaming. Oleh netizen, istri Al Ghazali ini dikomentari bentuk tubuhnya yang berbeda dengan foto-foto yang biasa ia unggah di akun media sosialnya.

 

Melalui platform Threads, Alyssa bersuara atas standar kecantikan dan tekanan yang dihadapi perempuan setelah melahirkan atau postpartum.

"'Kamu gendutan ya sekarang' - iya kak, soalnya baru selesai bikin manusia, sekarang lanjut bikin makanannya," tulis Alyssa Daguise dikutip pada Minggu (5/7/2026). Ia menyayangkan tuntutan banyak orang bahwa perempuan untuk selalu tampil langsing, padahal baru melahirkan. Padahal, setiap ibu memiliki waktu pemulihan yang berbeda-beda. Fokus setiap perempuan juga berbeda. Bagi ALlysa, fokusnya kini adalah memberikan ASI, nutrisi terbaik bagi bayinya.

 

"2 months postpartum and people already expect you to 'bounce back'," lanjutnya. Alyssa memberikan pesan mendalam bagi para pengikutnya dan netizen lainnya. "Healing bukan lomba, dan tubuh postpartum bukan sesuatu yang harus buru-buru 'dikembalikan'. Be kind," tegas Alyssa.

 

Mengapa Suka Melakukan Body Shaming?

Disadari atau tidak, body shaming sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dan itu bisa dilakukan siapa saja, dari teman atau kerabat yang suka berkomentar ..”kok tambah gendut?” atau bahkan dilakukan orang yang sama sekali tidak kita kenal misalnya pelayan toko pakaian yang komentar saat kita hendak membeli model pakaian tertentu dengan mengatakan, “ini cocoknya buat orang yang tubuhnya langsing..!”

 

Di era sosial media ini, body shaming makin mudah dilakukan dan menimpa siapa saja. Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh WCNC.com, penelitian menemukan bahwa 90–94% remaja putri di seluruh dunia pernah dipermalukan karena bentuk tubuh mereka. Itu artinya, hampir setiap wanita pernah mengalami body shaming sebelum mereka lulus SMA. 

 

Body shaming bisa menjadi bentuk perundungan (bullying) di mana seseorang melontarkan kata-kata yang tidak menyenangkan untuk membuat orang lain merasa buruk, seperti yang dialami Alyssa Daguise misalnya. Sering kali, komentar yang termasuk body shaming tidak dimaksudkan untuk menyakiti karena dikira hanya bercanda. Namun, candaan, godaan, dan nasihat yang sebenarnya bermaksud baik bisa saja dipersepsikan sebagai body shaming.

Selain dilakukan oleh orang lain, ironisnya body shaming juga bisa dilakukan oleh diri kita sendiri. Saat kita memiliki pikiran negatif yang mempermalukan tubuh sendiri atau membandingkan diri kita dengan orang lain, itulah momen di mana kita melakukan body shaming terhadap diri sendiri.

Media massa dan media sosial bila tidak disikapi dengan bijak, bisa berperan terhadap maraknya body shaming. Pasalnya, mereka mendorong standar masyarakat mengenai daya tarik dengan terus-menerus mempromosikan standar kecantikan tertentu, seperti tubuh ramping, kulit mulus, dan fitur wajah yang simetris. Padahal, penampilan fisik dan sempurna yang ada di sosial media kerap kali tidak mencerminkan kenyataan. Apalagi adanya filter yang bisa mengubah penampilan biasa menjadi sempurna.

 

Apa saja yang bisa menjadi sasaran body shaming?

Ciri fisik: Ini bisa mencakup aspek apa pun dari penampilan seseorang, termasuk ukuran dan berat badan. Body shaming juga bisa berupa diskriminasi berdasarkan warna kulit atau jenis rambut.

Perilaku: body shaming bisa menyoroti perilaku yang memengaruhi penampilan, seperti pilihan makanan dan seberapa sering seseorang berolahraga.

Pakaian dan perawatan diri: seseorang menjadi sasaran body shaming karena pakaian atau riasan yang tidak mengikuti tren terkini atau norma sosial tertentu. Hal ini seperti penggunaan pakaian adat yang dianggap jadul.

Norma gender tradisional: orang yang tidak memenuhi standar sosial tentang mengenai feminitas atau maskulinitas bisa menjadi sasaran body shaming karena penampilan dan perilaku mereka.

 

Body shaming dapat memengaruhi kesehatan mental, menyebabkan kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri. Mereka yang menjadi korban body shaming mungkin menarik diri dari keluarga dan teman. Padahal, dengan mengisolasi diri, masalah kesehatan mentalnya bisa makin parah. Karena itu, penting bagi kita untuk berpikir dulu sebelum berkomentar apa pun tentang orang lain. Jangan sampai karena komentar kita yang asal bunyi demi mencairkan suasana misalnya ternyata malah membuat teman kita terkena mental.  

 

body shaming alyssa daguise

Komentar

0 Komentar